it belongs to me

just me

Surat yang tak pernah sampai

leave a comment »


Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu.


Sama seperti diriku yang tak pernah berani untuk mengirimkan surat-surat elektronik itu karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara kepada diriku sendiri bahwa aku masih menginginkanmu. Aku hanya membutuhkan teman bicara yang mampu mengerti akan keinginanku tanpa ikut memberikan komentar tentang semuanya itu. Jadilah serangkaian surat-surat yang mengendap di draft item e-mailku, surat-surat yang seharusnya kukirimkan kepadamu supaya kamu mengerti tentang aku.


Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.


Aku takut. Aku takut karena aku ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanku untuk mengakui bahwa aku mulai ragu betapa sulitnya mendapatkanmu.
Kamu adalah bagian tebesar dalam hidupku, tapi aku cemas. Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hati-hati di atas sana sebagai pengingat. Sejarah kita.


Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia.


Kamulah Sang Kekasih Impian…

Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.


Kebenaran teragung yang akan selalu aku ingat.
Coba hitung, berapa waktu terlama saat kita bersama? Berapa waktu yang telah kita ambil untuk saling melihat antara satu dengan yang lain, untuk sekedar bercanda dan menceritakan kehidupan kita masing-masing?

…karena cinta adalah mengalami.


Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.


Inspired by Surat yang Tak Pernah Sampai, Filosofi Kopi
by Dee

Written by gerald

April 23, 2006 at 9:13 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: