it belongs to me

just me

stupid story

leave a comment »


-pagi hari-
sunny
“kak, nanti malam acara ulang tahunnya ko’ yuda jadi, kan?”

monce
“koq ulang tahun?”
“nanti malam itu resepsi pernikahannya. ingat, jam 6 ya, di restoran bima. tahu, kan?”
“kalau kamu bisa, sekalian datang di kebaktian pemberkatannya di gereja, jam 4 sore.”

sunny
“ok, kak. tapi kaya’nya aku baru hanya bisa datang ke resepsi, ada acara sampai jam 5. mungkin nanti aku akan datang bersama bety.”

monce
“jangan terlambat ya, acaranya resmi, pesta meja–bukan standing party!”

-siang hari-
monce
“sun, kakak pergi dulu ya, ada rapat di tenggilis.”
“ingat, nanti malam itu acara resepsi pernikahan, bukan ulang tahun!”

sunny
“ok, kak!”

sunny, monce, dan rado tinggal seatap di sebuah rumah kontrakan sederhana di daerah universitas negeri. sebenarnya monce bukanlah kakak kandung sunny, tapi karena posisinya yang paling tua di rumah, dia dipanggil dengan sebutan kakak. lain halnya dengan rado yang merupakan adik kandung monce. butet, dipanggilnya–panggilan kakak perempuan dalam adat batak.

-malam hari-
sebuah resepsi pernikahan yang mewah dan elegan diadakan di sebuah rumah makan yang cukup terkenal sebagai tempat untuk diadakan berbagai acara dan pertemuan. rumah makan ini sendiri berada di lantai dua gedung pertemuan tersebut. rupanya di lantai satu gedung tersebut juga diadakan sebuah resepsi pernikahan dengan adat jawa.
kami datang pas dengan jumlah kursi yang disediakan untuk kami, sepuluh orang–tanpa sunny, entah ada dimana ia sekarang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7pm.

acara mengalir lancar. mempelai memasuki ruangan, bersulang, foto-foto, dan menu makanan yang berbeda-beda pun secara bergantian hadir memenuhi meja kami.
menu pokok terakhir pun datang ke meja kami dan dengan segera berpindah dari piring saji menempati piring kami masing-masing.


saat itu waktu hampir menunjukkan pukul sembilan malam, tiba-tiba terlihatlah sunny datang dengan seorang wanita, kami mengenalnya sebagai bety.
dari jauh kami melihat wajah sumringah di wajah sunny, tapi tidak dengan bety, dari raut wajahnya kami tahu ada sesuatu yang tidak beres. apalagi melihat dandanannya yang jauh dari kategori layak untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan.
sunny tidak langsung datang ke meja kami, mungkin karena dia melihat sudah tidak ada tempat lagi untuknya. tapi, bety datang ke meja kami dengan muka bersedih.

bety
“aku kesel banget sama kak sunny,” katanya tiba-tiba.

kami terdiam, menunggu kata-kata selanjutnya.

bety
“ini pesta pernikahan ketiga yang kami datangi malam ini.”
kami tetap terdiam, kembali menunggu rentetan kata-kata kekesalan yang tampaknya akan segera meledak jika tidak dikeluarkan.

bety
“tadi kak sunny datang menjemputku di kos dan mengajakku ke pesta ulang tahun ko’ yudi, jadi aku hanya berpakaian casual seperti ini.”
“kami datang menuju gedung a, tempat pernikahannya mas billy dan mbak ageng dulu. aku mulai merasa ada yang tidak beres, setahuku ko’ yuda sudah jauh dari umur 17 tahun, jadi tidak mungkin mengadakan pesta ulang tahun di tempat semegah ini”, bety mulai menumpahakan kekesalannya.
“setelah kulihat kedua mempelai yang duduk di pelaminan itu bukan ko’ yuda, aku langsung mengajaknya pulang, karena aku tahu kita salah tempat, tapi dia minta ijin untuk mengambil minum dulu, haus katanya, jadi aku menyarankan untuk langsung ke tempat parkir setelah selesai minum, aku akan menunggunya disana.”
“lama kutunggu di tempat parkir ia tak kunjung datang. dengan langkah berat aku melangkahkan kakiku untuk mencarinya lagi di dalam ruang resepsi orang yang tak kukenal itu. dari jauh kulihat dia dengan asik sedang menikmati sajian dari empunya acara. aku kesal dan segera ku ajak pulang.”

akhirnya bety dan sunny meninggalkan acara resepsi orang yang tidak mereka kenal tersebut. di tengah perjalanan sunny baru ingat bahwa tempat resepsi yang sebenarnya ada di tengah kota, jauh dari tempat resepsi pertama yang salah itu. jadilah saat itu mereka meluncur ke sebuah gedung pertemuan di tengah kota, menuju ke acara resepsi yang sebenarnya.
tarnyata mereka masih saja salah. sunny yang tidak tahu–dan pura-pura sok tahu–langsung menerobos ke dalam ruang pertemuan yang ada di lantai satu gedung pertemuan tersebut. seharusnya dia dia bisa mengetahui dari jalannya acara yang sedang berjalan bahwa dia–masih–berada pada tempat yang salah. tapi yang dia lakukan adalah langsung menuju meja makan dan segera menikmati hidangan yang tersedia. bety yang tahu dengan pasti bahwa ko’ yuda dan pasangannya adalah seorang etnis tionghoa langsung merasa yakin bahwa mereka memasuki tempat yang salah.

sebuah resepsi dengan adat jawa.

bety
“aku mengajaknya keluar lagi, tapi yang kudapat hanya kata-kata seperti ini: makanannya lebih enak dari di tempat yang tadi (gedung a), ya!”
“aku kesal sekali!” bety terus bercerita tanpa menghiraukan air mata yang sudah tumpah ke pipinya.
“selesai dia makan aku langsung mengajaknya keluar dari tempat resepsi. di depan gadung kami bertemu dengan salah seorang teman gereja yang mengatakan bahwa acara resepsi–yang sebenarnya– diadakan di lantai dua.”

dan tibalah mereka dimana mereka seharusnya berada.

bety
“seandainya dia bukan kak sunny, sudah kumakan hidup-hidup dia,” bety mengakhiri ceritanya.

Written by gerald

June 26, 2007 at 3:18 am

Posted in tps, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: